Yup, a pair of the iconic boots. She said it was so 'in' during the seventies, that you would never be an 'it' girl in Jakarta without them.
Well, now Diana Rikasari loves them (and we believe a lot of fashion bloggers do), we snapped Inno with a pair too. But, wouldn't it be nice if the price tag of a pair of Doc Marts were a bit 'okay-I'll-buy-them-right-away' instead being 'oh-shit-they're-so-expensive-I'll-have-to-save-some-money-now-and-buy-them-someday' ?
---
Ibu saya senang banget bercerita tentang kehidupannya di masa remaja di akhir tahun 60an dan 70an di Indonesia, yang sebenarnya, saya rasa nggak jauh berbeda dari cerita-cerita yang ada di berbagai majalah dari Amerika/Inggris tentang flower power atau disco. Ibu saya memang benar-benar menghabiskan masa mudanya untuk pergi ke diskotik (ciyee..diskotik, cyin!), memakai rok super pendek, heboh tentang gaya rambut, dan juga menabung sisa uang jajannya untuk bisa beli sepasang Doc Marts.
Ya, sepasang boots bermerk Dr. Martens memang 'in' banget di tahun 70an, dan kalau nggak punya sepasang, menurut ibu saya, nggak akan dianggap keren .
Sekarang, kita bisa lihat ternyata Diana Rikasari (dan tentu banyak fashion bloggers lainnya) cinta banget sama Dr. Martens. The Blanc Notes juga sempat memotret Inno dengan sepasang Doc Marts.
Tapi, kayaknya akan lebih menyenangkan deh kalau harga sepasang Dr. Martens bisa lebih 'yuk-beli-sekarang-yuk' daripada 'ah-sial-mahal-banget-bo-nabung-dulu-deh-gue-siapa-tahu-bisa-beli-kapan-gitu', ya kan?
(Annisa)
